Senin, 31 Januari 2011

CERPEN , PUTRI TANDAMPALIK SUL-SEL


                             PUTRI TANDAMPALIK


                   Putri-Tandampalik.jpg



Alkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah daerah di Provinsi Sulawesi Selatan, berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaaan Luwu. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja atau datu yang bernama La Busatana Datu Maongge, atau sering dipanggil Raja Luwu atau Datu Luwu. Ia adalah seorang raja yang adil, arif dan bijaksana, sehingga rakyatnya hidup makmur dan sentosa. Datu Luwu mempunyai seorang putri yang cantik jelita dan berperangai baik, namanya Putri Tandampalik. Berita kecantikan dan perangai baiknya tersebar sampai ke berbagai negeri di Sulawesi Selatan.
Pada suatu hari, Raja Bone ingin menikahkan putranya dengan Putri Tandampalik. Ia pun mengutus beberapa pengawal istana ke Kerajaan Luwu untuk melamar sang Putri. Sesampainya di istana Luwu, utusan tersebut disambut dengan ramah oleh Datu Luwu. “Ampun, Baginda! Kami adalah utusan Raja Bone,” lapor seorang utusan sambil memberi hormat kepada Datu Luwu. “Kalau boleh aku tahu, ada apa gerangan kalian diutus oleh Raja kalian ke istana kami?,” tanya Datu Luwu dengan penuh wibawa. “Ampun, Baginda! Perkenankanlah kami untuk menyampaikan lamaran Raja Bone untuk putranya kepada putri Baginda yang bernama Putri Tandampalik,” jawab utusan itu memberi hormat.
Mendengar lamaran itu, Datu Luwu terdiam sejenak. Ia bingung untuk mengambil keputusan, menerima atau menolaknya, sebab dalam adat Kerajaan Luwu, seorang gadis Luwu tidak dibenarkan menikah dengan pemuda dari negeri lain. Akan tetapi, jika lamaran itu ditolak, ia khawatir akan terjadi perang yang sangat dahsyat antara dua kerajaan, sehingga membuat rakyat menderita. Setelah beberapa saat berpikir, Datu Luwu masih kebingungan untuk memberikan jawaban. “Wahai, Utusan! Perlu kalian ketahui, bahwa di Kerajaan Luwu ini berlaku sebuah hukum adat, yaitu seorang putri Luwuk tidak boleh menikah dengan pemuda dari negeri lain. Untuk itu, tolong sampaikan kepada raja kalian, supaya aku diberi waktu beberapa hari untuk memikirkan lamarannya tersebut,” ujar Datu Luwu. Utusan Raja Bone memahami dan mengerti keputusan Datu Luwu. Mereka pun kembali ke Kerajaan Bone untuk menyampaikan berita tersebut kepada Raja Bone.
Keesokan harinya, tiba-tiba negeri Luwu geger. Putri Tandampalik terserang penyakit kusta. Sekujur tubuhnya mengeluarkan cairan kental yang berbau anyir dan sangat menjijikkan. Para tabib istana mengatakan bahwa Putri Tandampalik terserang penyakit menular yang sangat berbahaya. Berita tentang musibah yang menimpa sang Putri sudah tersebar ke seluruh negeri. Rakyat negeri Luwu sangat bersedih atas penyakit yang diderita oleh sang Putri yang mereka cintai itu. Setelah berpikir dan menimbang-nimbang, Datu Luwu memutuskan untuk mengasingkan putrinya ke suatu tempat yang jauh. Ia khawatir penyakit putrinya akan menular ke seluruh rakyatnya. “Putriku! Demi keselamatan seluruh rakyat di negeri ini, relakah engkau jika Ayah mengasingkanmu ke daerah lain?” tanya Raja Luwu pada putrinya. “Jika itu adalah jalan yang terbaik, Ananda menerima keputusan Ayah dengan senang hati,” jawab sang Putri menerima keputusan ayahnya dengan tulus.
Dengan berat hati, Datu Luwu terpaksa harus berpisah dengan putri yang sangat dicintainya itu. Berangkatlah sang Putri dengan perahu bersama beberapa pengawal istana. Sebelum berangkat, Datu Luwu memberikan sebuah keris pusaka kepada Putri Tandampalik sebagai tanda bahwa ia tidak pernah melupakan, apalagi membuang anaknya. Setelah mempersiapkan segala perbekalan yang dibutuhkan, berangkatlah mereka ke suatu daerah yang jauh dari Kerajaan Luwu. Berbulan-bulan sudah mereka berlayar tanpa arah dan tujuan.  
Pada suatu hari, tampaklah bagi mereka sebuah pulau dari kejauhan. “Lihat, Tuan Putri!” seru seorang pengawal sambil menunjuk ke arah pulau itu. “Akhirnya, kita pun menemukan pulau,” jawab sang Putri dengan perasaan lega. Para pengawal pun semakin cepat mengayuh perahunya mendekati pulau itu. “Wah, indah sekali pemandangan itu. Sepertinya pulau itu belum terjamah oleh manusia,” sahut pengawal yang lain dengan kagum.
Tak berapa lama, sampailah mereka di pulau itu. Seorang pengawal yang lebih dahulu menginjakkan kakinya di pulau itu menemukan buah wajao. Pengawal itu kemudian memetik beberapa biji buah wajao untuk sang Putri. “Pulau ini kuberi nama Pulau Wajo[3],” kata sang Putri saat menerima buah itu. Sejak saat itu, Putri Tandampalik beserta pengawalnya memulai kehidupan baru. Mereka hidup dengan penuh kesederhanaan. Meskipun demikian, mereka tetap bekerja keras penuh dengan semangat dan gembira. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tak terasa satu tahun sudah mereka berada di tempat itu.
Suatu waktu, Putri Tandampalik duduk di tepi danau yang terletak di tengah pulau itu. Tiba-tiba seekor kerbau putih menghampiri dan menjilati kulit sang Putri dengan lembut. Semula, sang Putri hendak mengusirnya. Tetapi, hewan itu tampak jinak dan terus menjilatinya. Akhirnya, ia diamkan saja. Sungguh ajaib! Setelah berkali-kali dijilat oleh kerbau itu, kulit sang Putri yang mengeluarkan cairan tiba-tiba hilang tanpa bekas. Kulit sang Putri kembali halus, mulus dan bersih seperti sediakala. Sang Putri terharu dan bersyukur kepada Tuhan, karena penyakitnya telah sembuh. Ia kemudian berpesan kepada para pengawalnya, “Mulai saat ini, aku minta kalian untuk tidak menyembelih atau memakan kerbau putih yang ada di pulau ini, karena hewan itu telah menyembuhkan penyakitku.” Permintaan sang Putri itu langsung dipenuhi oleh seluruh pengawalnya. Hingga kini, kerbau putih yang ada di Pulau Wajo dibiarkan hidup bebas dan beranak pinak. Kemudian oleh masyarakat setempat, kerbau putih tersebut disebut sebagai sakkoli.[4] 
Pada suatu hari, pulau Wajo kedatangan serombongan pemburu. Mereka adalah Putra Mahkota Kerajaan Bone yang didampingi oleh Anreguru[5] Pakanranyeng, Panglima Kerajaan Bone, dan beberapa pengawalnya. Saking asyiknya berburu, Putra Mahkota Raja Bone tidak sadar kalau ia sudah terpisah dari rombongannya dan tersesat di hutan. Ia terus berteriak memanggil panglima dan para pengawalnya. “Panglimaaa...! Pengawaaal...! Aku di sini, kalian di mana...?” Berkali-kali sang Putra Mahkota berteriak, namun tidak ada jawaban. Menjelang malam, ia pun memutuskan untuk berstirahat di bawah sebuah pohon besar, karena kelelahan seharian berburu.
Malam semakin larut, Putra Mahkota tidak dapat memejamkan matanya. Suara-suara binatang malam membuatnya terus terjaga dan gelisah. Di tengah gelapnya malam, tiba-tiba ia melihat seberkas cahaya dari kejauhan. Semakin lama, pancaran cahaya itu semakin terang. Ia sangat penasaran ingin mengetahuinya. Ia kemudian memberanikan diri untuk mencari sumber cahaya itu. Dengan tertatih-tatih, Putra Mahkota berusaha berjalan mengikuti kaki melangkah menelusuri gelapnya malam. Akhirnya, sampailah ia di sebuah perkampungan yang ramai dengan rumah-rumah penduduk. Setelah ia memasuki perkampungan itu, sumber cahaya itu semakin jelas terdapat di sebuah rumah yang nampak kosong. Dengan melangkah pelan-pelan, Putra Mahkota mendekati dan memasuki rumah itu. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat seorang gadis yang cantik sekali bak bidadari sedang menjerang (memasak) air di dalam rumah itu. Gadis cantik itu tidak lain adalah Putri Tandampalik. “Ya, Tuhan! Mimpikah aku. Selama hidupku, baru kali ini aku melihat gadis secantik itu,” kata Putra Mahkota dalam hati dengan perasaan kagum.
Putri Tandampalik yang merasa kedatangan tamu, tiba-tiba menoleh. Sang Putri tergagap, “Tampan sekali pemuda ini. Tetapi, siapa dia dan dari mana asalnya? Sepertinya dia bukan penduduk sini,” kata sang Putri dalam hati. Kemudian mereka berdua berkenalan. Dalam waktu singkat, keduanya sudah akrab. Putri Tandampalik sangat kagum dengan kehalusan tutur bahasa Putra Mahkota. Meski ia seorang calon raja, ia sangat sopan dan rendah hati. Sebaliknya, bagi Putra Mahkota, Putri Tandampalik adalah seorang gadis yang anggun dan tidak sombong. Kecantikan dan penampilannya yang sederhana membuat Putra Mahkota kagum dan langsung menaruh hati. Namun, Putra Mahkota tidak bisa berlama-lama di Pulau Wajo menemani Putri Tandampalik, karena ia harus kembali ke negerinya untuk menyelesaikan beberapa kewajibannya di Istana Bone.
Sejak perjalanan dari Pulau Wajo sampai ke Kerajaan Bone, Putra Mahkota selalu teringat pada wajah cantik Putri Tandampalik. Ingin rasanya Putra Mahkota tinggal di Pulau Wajo. Anreguru Pakanyareng yang lebih dulu tiba di negeri Bone setelah berpisah dengan Putra Mahkota di Pulau Wajo, mengetahui apa yang dirasakan oleh putra rajanya itu. Ia sering melihat Putra Mahkota duduk termenung seorang diri di tepi telaga. Oleh karena tidak ingin melihat tuannya terus bersedih, maka Anreguru Pakanyareng segera menghadap dan menceritakan semua kejadian yang pernah mereka alami di Pulau Wajo. “Ampun, Baginda Raja! Hamba mengusulkan agar Paduka Raja segera melamar Putri Tandampalik,” usul Anreguru Pakanyareng. Setelah mendengar semua cerita dan usulan Anreguru itu, Raja Bone segera mengutus beberapa pengawalnya mendampingi Putra Mahkota untuk melamar Putri Tandampalik di Pulau Wajo.
Sesampainya di pulau itu, Putri Tandampalik tidak langsung menerima lamaran Putra Mahkota. Ia hanya memberikan keris pusaka Kerajaan Luwu yang diberikan ayahnya ketika ia diasingkan. “Maaf, Tuan-tuan! Aku belum bisa menerima lamaran kalian. Bawalah keris ini kepada Ayahandaku. Jika Ayahandaku menerima keris ini berarti lamaran kalian diterima,” ujar sang Putri seraya menyerahkan keris pusaka itu. Setelah bermusyawarah dengan pengawalnya, Putra Mahkota memutuskan untuk berangkat sendiri ke Kerajaan Luwu. Perjalanan berhari-hari ia jalani penuh dengan semangat. Setibanya di Kerajaan Luwu, Putra Mahkota menceritakan pertemuannya dengan Putri Tandampalik dan menyerahkan keris pusaka itu pada Datu Luwu.
Datu Luwu dan permasuri sangat gembira mendengar berita baik tersebut. Datu Luwu sangat kagum dengan perangai Putra Mahkota. Datu Luwu merasa bahwa Putra Mahkota adalah seorang pemuda yang gigih, bertutur kata lembut, sopan dan penuh semangat. Tanpa berpikir panjang lagi, Datu Luwu menerima keris pusaka itu dengan tulus. Hal ini berarti bahwa lamaran Putra Mahkota diterima. Tanpa menunggu lama, Datu Luwu dan permaisuri datang mengunjungi Pulau Wajo untuk menemui putri kesayangannya. Pertemuan Datu Luwu dengan putri tunggalnya sangat mengharukan. “Maafkan Ayah, Nak! Ayah telah membuangmu ke tempat ini,” Datu Luwu minta maaf sambil memeluk putrinya. “Tidak, Ayah! Justru Ayah harus bersyukur, karena rakyat Luwu terhindar dari penyakit menular yang menimpa diriku,” kata Putri Tandampalik.
Beberapa hari kemudian, Putri Tandampalik menikah dengan Putra Mahkota Raja Bone di Pulau Wajo. Pesta pernikahan mereka berlansung sangat meriah. Seluruh keluarga dari dua Kerajaan Besar di Sulawesi Selatan itu sangat gembira dengan pernikahan tersebut. Putri Tandampalik dan Putra Mahkota hidup bahagia. Beberapa tahun kemudian, Putra Mahkota naik tahta. Ia menjadi raja yang arif dan bijaksana. Maka semakin bertambahlah kebahagiaan mereka.  

MAKALAH EKOSISTEM LAUT


                                        KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia-Nya karya kami ini dapat diselesaikan.
Tujuan saya membuat laporan ini adalah untuk menambah pengetahuan kepada pembaca mengenai EKOSISTEM LAUT atau beberapa informasi mengenai PPLH yang ada di putondo
Semoga laporan ini berguna bagi kita semua


                                                 


                                                      DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
1.A Ringkasan materi
1.B Tujuan
1.C waktu dan tempat


BAB II
ISI
2.A Laporan perjalanan
2.B Materi

BAB III
PENUTUP
3.A Kesimpulan
3.B Saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB I

                                      PENDAHULUAN


Ekosistem laut merupakan suatu kumpulan integral dari berbagai komponen abiotik (fisika-kimia) dan biotik (organisme hidup) yang berkaitan satu sama lain dan saling berinteraksi membentuk suatu unit fungsional. Komponen-komponen ini secara fungsional tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Apabila terjadi perubahan pada salah satu dari komponen-komponen tersebut (misalnya perubahan nilai parameter fisika-kimia perairan), maka akan menyebabkan perubahan pada komponen lainnya (misalnya perubahan kualitatif dan kuantitatif organismenya). Perubahan ini tentunya dapat mempengaruhi keseluruhan sistem yang ada, baik dalam kesatuan struktur fungsional maupun dalam keseimbangannya. Kelangsungan suatu fungsi ekosistem dapat menentukan kelestarian dari sumberdaya hayati sebagai komponen yang terlibat dalam sistem tersebut. Oleh sebab itu, untuk menjamin sumberdaya hayatinya, maka hubungan-hubungan ekologis yang berlangsung di antara komponen-komponen sumberdaya hayati yang menyusun suatu sistem, perlu diperhatikan.
Dari seluruh komponen biotik yang ada, maka salah satu di antaranya yang menarik untuk dikaji adalah meiofauna interstisial, yaitu suatu kelompok fauna bentik yang berukuran antara 63–1000 μm (0.063–1 mm) atau kelompok metazoa kecil yang berada di antara mikrofauna dan makrofauna. Organisme ini hidup dalam ruang interstisial yaitu ruang di antara partikel-partikel sedimen atau di sela-sela butiran sedimen (Higgins & Thiel 1988; Funch et al. 2002; Linhart et al. 2002; Bartolomaeus & Schmidt-Rhaesa 2006). Karena fauna ini hidupnya secara interstisial, maka di dalam penelitian ini disebut sebagai meiofauna interstisial.
Meiofauna interstisial merupakan biota laut yang masih sedikit dikenal oleh sebagian orang bila dibandingkan dengan biota laut lainnya, seperti ikan, kepiting, penyu, siput, cumi-cumi dan udang. Hal ini disebabkan oleh ukuran tubuhnya yang sangat kecil dan posisinya yang tersembunyi di dalam sedimen serta tidak memberikan manfaat langsung bagi manusia (manfaat ekonomi). Umumnya meiofauna interstisial ini baru dikenal oleh para ilmuwan yang menekuni bidang biologi dan ekologi laut.






1.A  RINGKASAN MATERI

1. MANGROVE
Mangrove merupakan karakteristik dari bentuk tanaman pantai, estuari atau muara sungai, dan delta di tempat yang terlindung daerah tropis dan sub tropis. Dengan demikian maka mangrove merupakan ekosistem yang terdapat di antara daratan dan lautan dan pada kondisi yang sesuai mangrove akan membentuk hutan yang ekstensif dan produktif.Karena hidupnya di dekat pantai, mangrove sering juga dinamakan hutan pantai, hutan pasang surut, hutan payau, atau hutan bakau. Istilah bakau itu sendiri dalam bahasa Indonesia merupakan nama dari salah satu spesies penyusun hutan mangrove yaitu Rhizophora sp. Sehingga dalam percaturan bidang keilmuan untuk tidak membuat bias antara bakau dan mangrove maka hutan mangrove sudah ditetapkan merupakan istilah baku untuk menyebutkan hutan yang memiliki karakteristik hidup di daerah pantai.

2. TERUMBUH KARANG

Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis­jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis­jenis moluska, krustasea, ekhinodermata, polikhaeta, porifera, dan tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis plankton dan jenis-jenis nekton
3. PADANG LAMUN
Perairan pesisir merupakan lingkungan yang memperoleh sinar matahari cukup yang dapat menembus sampai ke dasar perairan. Di perairan ini juga kaya akan nutrien karena mendapat pasokan dari dua tempat yaitu darat dan lautan sehingga merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya. Karena lingkungan yang sangat mendukung di perairan pesisir maka tumbuhan lamun dapat hidup dan berkembang secara optimal. Lamun didefinisikan sebagai satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang mampu beradaptasi secara penuh di perairan yang salinitasnya cukup tinggi atau hidup terbenam di dalam air dan memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati. Beberapa ahli juga mendefinisikan lamun (Seagrass) sebagai tumbuhan air berbunga, hidup di dalam air laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, serta berbiak dengan biji dan tunas.
1.B.  TUJUAN

Tujuan kami untuk mengetahui lebih dalam tentang ekosistem laut dan bisa praktek langsung di lapangan . agar bisa membagi ilmu kita di orang-orang yang mau mengetahui ekosistem laut .


2.C. WAKTU DAN TEMPAT
  a.   waktu
         25 oktober 2010

   b.tempat
     Sulawesi selatan, kab takalar PPLH PUTONDO . lokasi desa desun

                                   
BAB II 

2.A. Laporan perjalana
Perjalanan kami sangat enak dan menyenangkan , bisa mendapat teman dan penggalaman .
Kami saling membantu , kompak berkrja sama dalam hal apapun . fasilitas di putondo juga sangat bagus dan tempat nyaman karna dekat pantai .

    2.B Materi
Ekosistem laut
a.     Padang lamun
b.     Mangrove
c.      Terumbuh karang

 

 

 A.Padang lamun

              

Perairan pesisir merupakan lingkungan yang memperoleh sinar matahari cukup yang dapat menembus sampai ke dasar perairan. Di perairan ini juga kaya akan nutrien karena mendapat pasokan dari dua tempat yaitu darat dan lautan sehingga merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya. Karena lingkungan yang sangat mendukung di perairan pesisir maka tumbuhan lamun dapat hidup dan berkembang secara optimal. Lamun didefinisikan sebagai satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang mampu beradaptasi secara penuh di perairan yang salinitasnya cukup tinggi atau hidup terbenam di dalam air dan memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati. Beberapa ahli juga mendefinisikan lamun (Seagrass) sebagai tumbuhan air berbunga, hidup di dalam air laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, serta berbiak dengan biji dan tunas.
Gambar Lamun jenis Halophila sp

Karena pola hidup lamun sering berupa hamparan maka dikenal juga istilah padang lamun (Seagrass bed) yaitu hamparan vegetasi lamun yang menutup suatu area pesisir/laut dangkal, terbentuk dari satu jenis atau lebih dengan kerapatan padat atau jarang. Sedangkan sistem (organisasi) ekologi padang lamun yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik

 

      B. MANGROVE

 

Mangrove merupakan karakteristik dari bentuk tanaman pantai, estuari atau muara sungai, dan delta di tempat yang terlindung daerah tropis dan sub tropis. Dengan demikian maka mangrove merupakan ekosistem yang terdapat di antara daratan dan lautan dan pada kondisi yang sesuai mangrove akan membentuk hutan yang ekstensif dan produktif.Karena hidupnya di dekat pantai, mangrove sering juga dinamakan hutan pantai, hutan pasang surut, hutan payau, atau hutan bakau. Istilah bakau itu sendiri dalam bahasa Indonesia merupakan nama dari salah satu spesies penyusun hutan mangrove yaitu Rhizophora sp. Sehingga dalam percaturan bidang keilmuan untuk tidak membuat bias antara bakau dan mangrove maka hutan mangrove sudah ditetapkan merupakan istilah baku untuk menyebutkan hutan yang memiliki karakteristik hidup di daerah pantai.
Berkaitan dengan penggunaan istilah mangrove maka menurut FAO (1982) : mangrove adalah individu jenis tumbuhan maupun komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah pasang surut. Istilah mangrove merupakan perpaduan dari dua kata yaitu mangue dan grove. Di Eropa, ahli ekologi menggunakan istilah mangrove untuk menerangkan individu jenis dan mangal untuk komunitasnya. Hal ini juga dijelaskan oleh Macnae (1968) yang menyatakan bahwa kata nmangrove seharusnya digunakan untuk individu pohon sedangkan mangal merupakan komunitas dari beberapa jenis tumbuhan.

Hutan mangrove sering disebut hutan bakau atau hutan payau. Dinamakan hutan bakau oleh karena sebagian besar vegetasinya didominasi oleh jenis bakau, dan disebut hutan payau karena hutannya tumbuh di atas tanah yang selalu tergenang oleh air payau. Arti mangrove dalam ekologi tumbuhan digunakan untuk semak dan pohon yang tumbuh di daerah intertidal dan subtidal dangkal di rawa pasang tropika dan subtropika. Tumbuhan ini selalu hijau dan terdiri dari bermacam-macam campuran apa yang mempunyai nilai ekonomis baik untuk kepentingan rumah tangga (rumah, perabot) dan industri (pakan ternak, kertas, arang). 

 

 

 

C. TERUMBUH KARANG

Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis­jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis­jenis moluska, krustasea, ekhinodermata, polikhaeta, porifera, dan tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis plankton dan jenis-jenis nekton
Gambar 1. Ekosistem terumbu karang (atas), karang terumbu dan matriks terumbu (tengah), serta insert hewan karang (bawah)



BAB III

3.A Kesimpulan

     Di laut, hewan dan tumbuhan tingkat rendah memiliki tekanan osmosis sel yang hampir sama dengan tekanan osmosis air laut. Hewan tingkat tinggi beradaptasi dengan cara banyak minum air, pengeluaran urin sedikit, dan pengeluaran air dengan cara osmosis melalui insang. Garam yang berlebihan diekskresikan melalui insang secara aktif.

3.B Saran
    Kita harus menjaga kebersihan laut agar ekosistem berjalan baik dak ekosistem juga sumber kehidupan bagi manusia dan mahkluk lainnya.



   DAFTAR PUSAKA
   Di buat oleh M.KAMARUDDIN.S.H , tanggal    1-10-2010, hasil praktek di lapangan atau bertempat di PPLH putondo TAKALAR, selawesi selatan .

DEFINISI SOSIOLOGI


AUGUSTE COMTE
Sosiologi adalah Suatu disiplin ilmu yang bersifat positif yaitu mempelajari gejala-gejala dalam masyarakat yang didasarkan pada pemikiran yang bersifat rasional dan ilmiah.
MAX WEBER
Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang tindakan social atau perilaku-perilaku manusia
EMILE DURKHEIM
Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari fakta-fakta social yaitu fakta-fakta atau kenyataan yang berisikan cara bertindak, cara perpikir dan cara merasakan sesuatu.
HERBERT SPENCER
Sosiologi adalah Ilmu yang menyelidiki tentang susunan-susunan dan proses kehidupan social sebagai suatu keseluruhan / suatu sistem.
PITIRIM SOROKIN
Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari :
  1. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial   (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama; keluarga dengan moral; hukum dengan ekonomi; gerak masyarakat dengan politik dan lain sebagainya)
  2. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala-gejala non-sosial (misalnya gejala geografis, biologis,dan sebagainya)
  3. Ciri-ciri umum semua jenis gejala sosial lain
RAOUCEK & WARREN
Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok sosial
WILLIAM F. OGBURN & MAYER F. NIMKOFF
Sosiologi adalah Penelitian secara ilmiah terhadap interaksi social dan hasil-hasil dari interaksi tersebut
J.A.A. VAN DORN & C.J. LAMMERS
Sosiologi adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang struktur dan proses- proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
PAUL B. HORTON
Sosiologi adalah Ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok-kelompok masyarakat dan produk/hasil dari kehidupan kelompok tertentu
MAC IVER
Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang hubungan-hubungan social yang terjadi dalam masyarakat
J. GILLIN
Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari interaksi yang timbul di dalam masyarakat
P.J. BAOUMAN
Sosiologi adalah Ilmu pengetahuan tentang manusia dan hubungan-hubungan antar golongan manusia
Mr. J. BIERENS De HAAN
Sosiologi adalah Ilmu pengetahuan tentang masyarakat manusia, baik mengenai hakekatnya, susunannya, hubungannya, kodrat-kodrat yang menggerakkannya, mengenai kesehatan dan perkembangan masyarakat.
GEORGE SIMMEL
Sosiologi adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari perhubungan sesama manusia ( Human Relationship )
LESTER FRANK WARD
Sosiologi adalah Ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk meneliti kemajuan-kemajuan manusia dan apa saja yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupannya.
WILLIAM KORNBLUM
Sosiologi adalah Suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku-perilaku anggotanya yang menjadikannya masyarakat yang bersangkutan ke dalam berbagai kelompok-kelompok dan berbagai kondisi-kondisi
ALLAN JOHNSON
Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu system social dan bagaimana system tersebut mempengaruhi individu dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi system itu.
VANDER ZANDEN
Sosiologi adalah Studi ilmiah tentang interaksi manusia di masyarakat.
ANTHONY GIDDENS
Sosiologi adalah Studi tentang kehidupan social manusia, kelompok-kelompok manusia dan masyarakat.
MAYOR POLAK
Sosiologi adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan yakni hubungan diantara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok.
SELO SOEMARDJAN & SOELAEMAN SOEMARDI
Sosiologi atau ilmu masyarakat ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.
Struktur Sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok yaitu kaidah-kaidah sosial (norma-norma sosial), lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan sosial.
Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama, umpamanya pengaruh timbal balik antara segi kehidupan ekonomi dengan segi kehidpuan politik, antara segi kehidupan hukum dan segi kehidupan agama, antara segi kehidupan agama dan segi kehidupan ekonomi dan lain sebagainya.
SOERJONO SOEKANTO
Sosiologi adalah Ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.
HASSAN SHADILY
Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antar manusia yang menguasai kehidupan dengan mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta perubahannya